RIO PURBOYO
Lebaran tiba, rindu kampung halaman pun membuncah. Namun, di tengah hangatnya pertemuan, mungkin kita lupa esensi silaturahmi yang sebenarnya.
Alih-alih sekadar basa-basi, momen Lebaran adalah kesempatan emas untuk benar-benar terhubung dengan hati, bukan terjebak dalam “sok akrab” yang hampa.
Artikel ini akan membahas tiga perilaku sederhana tapi bermakna, untuk membuat Lebaran anda lebih berkesan.
1. Akrab, tapi bukan sok akrab.
“Mukmin itu mudah akrab dan enak diakrabi. Dan tiada kebaikan pada orang yang tidak suka mengakrabi, tak nyaman pula diakrabi.” (HR Ahmad, Al Hakim, dan Al Baihaqi dari Abu Hurairah).
Imam Al Munawi memberikan penjelasan hadits ini dengan,
“Mudah akrab dan enak diakrabi karena kebaikan akhlaqnya, kemudahan wataknya, dan kelembutan perangainya.”
Dan sebaliknya, tiada kebaikan pada orang yang susah akrab, “Karena lemah imannya, keras hatinya, dan kasar perangainya.”
Tempatkanlah orang lain pada posisi terhormat di dalam akal dan hati kita. Tunjukkan respon yang relevan, senyum dan lihatlah dengan lembut orang yang sedang berbicara, gerakkan kepala tanda setuju, dorong ia untuk meneruskan pembicaraan, duduklah yang sesuai sehingga orang lain merasa nyaman dan tenang.
Namun ingat, jangan terjerumus pada perilaku sok akrab. Anda menggunakan bahasa, sapaan, gerakan, atau isyarat tubuh yang terlalu akrab sebelum waktunya.
Bangunlah hubungan baik dengan tepat, gunakan empati dan berkomunikasilah sesuai konteks. Karena hal-hal yang dapat diterima di suatu tempat, boleh jadi justru dianggap tidak sopan (tidak patut) di tempat lain.
Keakraban terbangun melalui proses. Keakraban yang dibuat-buat justru membuat keakraban sebenarnya makin jauh dari kenyataan.
2. Mendengarkan.
Simak dengan seksama apa yang orang lain katakan, sopan dan menghargai, tdak memotong perkataannya, dan menangkap pesan-pesan yang diungkapkan baik melalui ucapan maupun isyarat lainnya.
Saat kita gagal dalam mendengarkan, kita mengirim sinyal buruk yang bermakna:
– Saya tidak peduli padamu
– Kamu salah
– Kamu bodoh
– Saya tidak mengerti kamu ngomong apa
– Kamu menyia-nyiakan waktuku
Kabar baiknya, kemampuan mendengarkan dapat dipelajari. Dan, menjadi pendengar yang lebih baik biasanya tidak memerlukan tindakan apa pun. Anda hanya perlu berdiam diri selama 8 detik. Serius, jangan lakukan apa pun. Dengarkanlah!
Mendengarkan, bukan hanya jembatan emas penghubung komunikasi antar manusia. Melainkan juga cermin bukti kepedulian kita kepada orang lain.
3. Tidak mengungguli teman bicara
Perilaku mengalahkan opini orang lain, terjadi dengan menonjolkan keunggulan (penderitaan) diri.
Misalnya, dengan memamerkan pencapaian, kejadian luar biasa pada diri kita yang jarang dialami orang-orang di sekitar kita.
Bahkan, bisa juga dengan menceritakan pengalaman yang lebih nestapa daripada peristiwa buruk yang orang lain alami.
Teman anda bercerita betapa sakitnya perawatan gigi yang ia alami di sebuah klinik dokter gigi. Eh, anda timpali dengan ceritakan pengalaman yang menurut anda lebih menyakitkan di klinik dokter gigi lainnya.
Dalam perlombaan yang tidak penting itu, kita merasa perlu untuk menampakkan diri sebagai pemenang. Bisa karena tidak sabaran, bisa juga karena kita ingin membuat orang lain mengagumi kita.
Perilaku yang bertujuan membuat orang lain mengagumi kita, justru membuat mereka mendapat kesan bahwa kita adalah orang sombong. Jadi, jangan lakukan!
Dengan demikian, mari kita jadikan Lebaran tahun ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momen berharga untuk mempererat tali persaudaraan dan menciptakan kenangan indah yang akan selalu dikenang.
Mari jadikan setiap percakapan bermakna, setiap perjumpaan penuh arti, agar Lebaran tahun ini meninggalkan kesan mendalam di dalam hati.
Selamat merayakan Lebaran, 1 Syawal 1446 H.
Taqobbal allahu minna wa minkum.
Semoga Allah menerima amal kita, semua. Aamiin.
